Senin, 09 November 2009
MENGINTIP Fosil Bayi Mammoth Mengandung Susu dan Feses
Minggu, 08 November 2009
Ditemukan, Bebek Dinosaurus Baru .....................
Jumat, 06 November 2009
Harta Karun Dewa Cinta ???

sumber :http://wong168.wordpress.com/2009/11/07/harta-karun-dewa-cinta/
Tim yang dipimpin oleh arkeolog, Vaselin Ignatov menemukan kuburan seluas 12 meter persegi yang diperkirakan berasal dari antara akhir abad pertama dan awal abad kedua. Lokasinya terletak di desa Karanovo.
Lokasi pekuburan dari aristokrat Thracian berisi beberapa benda yang menarik, termasuk harta karun perak dan artefak yang ditempatkan untuk digunakan setelah ia meninggal.
Diantaranya adalah sepasang cangkir yang bergambar dewa cinta Eros serta sejumlah hiasan perak dan perunggu lainnya.
Arkeolog juga menemukan kereta dan perisai. Ekspedisi yang disebut Karanovo 2009-2010 baru saja dimulai untuk mengungkapkan penemuan baru, dan Ignatov mengharapkan lebih banyak barang berharga ditemukan lebih lanjut.
Arkeolog dari museum sejarah Nova Zagora akan melanjutkan eksplorasi mereka di lokasi makam Thracian meski musim dingin datang. Mereka membuat tempat perlindungan khusus untuk mengatasi hal ini.
Sumber: Inilah
Rabu, 04 November 2009
MENGINTIP Hewan – hewan Ribuan Tahun !!!

Itulah yang terjadi dalam zaman ekspedisi yang digelontori dengan dana besar yang menggali berhektare-hektare padang pasir dalam rangka mencari makam kerajaan serta emas menakjubkan, topeng berlukis, dan peti mati untuk menghiasi rumah dan museum Eropa dan Amerika. Ribuan mumi binatang yang ditemukan di tempat suci di seantero Mesir itu hanya menjadi penghalang yang perlu disingkirkan untuk meraih artefak berharga. Tak banyak orang yang mempelajari mumi-mumi binatang itu, dan nilai pentingnya pun nyaris tak diketahui.
Seabad kemudian, arkeologi tak lagi menjadi perburuan trofi dan semakin bersifat ilmiah. Para penggali kini menyadari bahwa sebagian besar kekayaan situsnya terletak pada berbagai perincian tentang orang biasa—perbuatan mereka, pemikiran mereka, dan cara mereka berdoa. Mumi binatang merupakan bagian penting dari penemuan berharga ini.
“Mumi binatang merupakan perwujudan kehidupan sehari-hari,” ujar pakar tentang Mesir Salima Ikram. “Hewan peliharaan, makanan, kematian, agama. Hal-hal tersebut mencakup semua hal yang dianggap penting oleh orang Mesir.” Ikram yang mengkhususkan diri dalam zooarkeologi—ilmu yang mempelajari jasad binatang dari zaman kuno—ikut mengawali penelitian baru tentang kucing dan binatang lain yang diawetkan secara sangat terampil dan saksama. Sebagai profesor di American University di Cairo, Ikram memanfaatkan koleksi mumi binatang yang terbengkalai dalam Museum Mesir sebagai proyek penelitian. Setelah melakukan pengukuran yang presisi, mengintip ke balik bebat linen dengan sinar-x, dan menyusun daftar dari temuan-temuannya, dia membuat ruang pamer untuk koleksi tersebut—jembatan antara masyarakat masa kini dengan kaum di masa lampau. “Saat melihat hewan-hewan ini, kita bisa berkata, ‘Oh, Raja Anu punya peliharaan. Saya juga punya. Alih-alih terpisah jarak 5.000 tahun lebih, orang Mesir kuno ini pun dilihat sebagai sesama manusia.”
Kini mumi hewan menjadi salah satu objek pameran yang paling populer di museum yang penuh dengan artefak berharga itu. Pengunjung dari semua umur, orang Mesir maupun orang asing, berjejalan melihatnya. Di balik panel kaca terbaring sejumlah kucing yang terbalut kain linen, yang membentuk pola belah ketupat, garis-garis, bujur sangkar, dan bersilangan. beberapa celurut terbaring tenang dalam kotak batu gamping berukir, dan . kambing-kambing jantan di dalam kotak berhias sepuhan dan manik-manik. Seekor gazelle yang terbungkus tikar papirus rombeng tampak demikian gepeng akibat proses pemumian, sehingga Ikram menyebutnya Korban Tabrak Lari. Seekor buaya sepanjang lima meter dengan punggung penuh tonjolan kulit dikubur bersama sejumlah mumi anak buaya di mulutnya. Burung ibis terbungkus dengan hiasan rumit. Juga ada elang, ikan, bahkan kumbang pel yang kecil beserta bola tahi yang dimakannya.
Beberapa hewan diawetkan agar tuannya yang meninggal punya teman di alam kekal. Orang Mesir kuno yang mampu membiayainya menyiapkan kuburannya secara mewah, berharap barang pribadi yang dikumpulkan, serta semua karya seni yang dipesan khusus, akan tersedia bagi mereka setelah mati. Bermula pada sekitar 2950 SM, raja-raja dinasti pertama Mesir dikuburkan di Abydos bersama anjing, singa, dan keledai dalam kompleks pemakaman mereka. Lebih dari 2.500 tahun kemudian, pada masa dinasti ke-30, seorang rakyat jelata di Abydos bernama Hapi-men dimakamkan bersama anjing kecilnya yang meringkuk di kaki lelaki itu.
Mumi-mumi hewan lainnya berperan sebagai bekal orang yang mati. Potongan daging sapi terbaik, bebek, angsa, dan burung dara yang lezat diasinkan, dikeringkan, lalu dibungkus dengan linen. “Mumi pangan” demikian sebutan Ikram bagi dendeng pilihan untuk alam baka ini. “Tak masalah apakah semasa hidup dia menikmati makanan ini secara teratur, yang penting bisa dinikmati di alam baka.”
Sementara itu, beberapa jenis hewan lainnya dimumikan karena merupakan representasi hidup dewa tertentu. Kota Memphis yang mulia, ibu kota Mesir pada hampir sepanjang sejarah kunonya meliputi wilayah seluas 50 kilometer persegi pada masa puncaknya sekitar 300 SM. Penduduk Memphis sekitar 250.000 jiwa. Saat ini sebagian besar sisa kejayaan Memphis terletak di bawah desa Mit Rahina dan ladang di sekitarnya. Namun di sepanjang jalan berdebu, puing-puing sebuah kuil berdiri setengah tersembunyi oleh belukar. Inilah rumah pembalsaman sapi jantan Apis, salah satu hewan yang paling dipuja di seluruh Mesir purba.
Apis yang merupakan lambang kekuatan dan kejantanan sangatlah erat kaitannya dengan raja yang adikuasa. Makhluk ini setengah hewan setengah dewa dan dipilih untuk dipuja karena tanda tak lazim yang dimilikinya: segitiga putih di keningnya, pola sayap putih di bahu dan bokongnya, siluet kumbang pel di lidahnya, dan ujung rambut ekornya yang bercabang. Pada masa hidupnya, Apis dipelihara dalam suaka khusus, dimanjakan pendeta, dihiasi emas dan permata, dan dipuja banyak orang. Setelah mati, ruhnya dipercaya pindah ke sapi jantan lain, maka dimulailah pencarian Apis yang baru. Sementara itu, jasad hewan yang mati dibawa ke kuil dan dibaringkan di atas batu travertin yang terukir indah. Proses pemumian memakan waktu sekurangnya 70 hari—40 hari untuk mengeringkan daging yang tabal itu dan 30 hari untuk membungkusnya.
Pada hari pemakaman sang sapi, penduduk kota berduyun-duyun ke jalan untuk menyaksikan acara berkabung nasional tersebut. Sambil meratap dan menjambak-jambak rambut, mereka menyesaki jalan ke katakomba (kuburan bawah tanah) yang kini dikenal sebagai Serapeum di nekropolis (area pemakaman) padang pasir Saqqara. Dalam prosesi pemakaman, pendeta, penyanyi kuil, dan pejabat tinggi mengantar mumi itu ke kawasan gua galeri berkubah yang dipahat dari lapisan-batu-dasar gamping. Di sana, di antara koridor panjang pemakaman sebelumnya, mereka memakamkan mumi itu ke dalam sarkofagus raksasa dari kayu atau granit. Namun, beberapa abad setelahnya, kesucian tempat ini dilanggar karena pencuri mendongkel tutup sarkofagus dan menjarah mumi tersebut untuk diambil ornamennya yang berharga. Sayang, tak ada pemakaman sapi Apis yang masih utuh.
Hewan suci lainnya dipuja di pusat kultusnya masing-masing—sapi jantan di Armant dan Heliopolis, ikan di Esna, kambing jantan di Pulau Elephantine, buaya di Kom Ombo. Ikram percaya, gagasan tentang makhluk suci seperti itu lahir pada awal peradaban Mesir ketika curah hujan yang lebih lebat dibanding zaman sekarang menjadikan tanah di Mesir hijau dan gemah ripah. Karena dikelilingi hewan, orang mulai mengaitkan berbagai satwa itu dengan dewa tertentu sesuai kebiasaannya. Buaya misalnya. Binatang ini secara naluriah bertelur di atas batas luapan air saat banjir tahunan Nil, peristiwa penting yang merendam dan menyuburkan ladang dan menyebabkan Mesir kembali bangkit tahun demi tahun. “Buaya dianggap ajaib,” ujar Ikram, “karena memiliki kemampuan meramal.”
Kabar tentang banjir yang baik ataupun yang buruk penting bagi negeri petani. Demikianlah secara berangsur-angsur buaya menjadi lambang Sobek, dewa-air kesuburan, dan sebuah kuil dibangun di Kom Ombo, salah satu tempat di Mesir selatan yang jadi lokasi banjir pertama terlihat setiap tahunnya. Di tempat suci itu, tak jauh dari tepi sungai tempat buaya liar berjemur, buaya peliharaan menikmati hidup bermanja dan dikuburkan dengan upacara yang serupa setelah mati.
MUMI HEWAN TERBANYAK, hingga jutaan di Istabl Antar, adalah hewan pembayar nazar yang dikorbankan selama perayaan tahunan pada kuil pemujaan hewan di Istabl Antar. Seperti pasar malam, pertemuan akbar ini menghidupkan pusat agama di hulu dan hilir Sungai Nil. Ratusan ribu peziarah tiba dan mendirikan kemah. Musik dan tarian memenuhi jalur arak-arakan. Pedagang menjual makanan, minuman, dan tanda mata. Pendeta menjadi penjaja, menawarkan mumi yang dibungkus sederhana di samping yang lebih mewah bagi orang yang mampu membayar lebih tinggi—atau setidaknya yang merasa demikian. Di tengah kepulan asap dupa, dan umat mengakhiri ziarah mereka dengan memberikan mumi pilihannya ke kuil dengan teriring doa.
Beberapa tempat dikaitkan dengan hanya satu dewa dan hewan perlambangnya. Namun di tempat-tempat yang tua dan mulia seperti Abydos ditemukan semua jenis mumi persembahan, dimana setiap spesies merupakan penghubung dengan dewa tertentu. Di Abydos yang jadi tempat pemakaman para penguasa awal Mesir, penggalian mengungkap mumi ibis yang kemungkinan melambangkan Thoth, dewa kearifan dan tulisan. Elang mungkin melambangkan dewa-langit Horus, pelindung raja yang sedang berkuasa. Sementara anjing dihubungkan dengan Anubis yang berkepala jakal, sang penjaga orang mati. Dengan menyumbangkan salah satu mumi ini ke kuil, peziarah dapat memperoleh rahmat dewa. “Makhluk itu akan selalu berbisik kepada sang dewa, katanya, ‘Ini dia, ini dia pemujamu, berkatilah dia,’” jelas Ikram.
Sejak dinasti ke-26 sekitar 664 SM, mumi persembahan menjadi sangat populer. Negeri itu baru saja mengusir penjajahnya, dan warga Mesir dengan lega kembali kepada budayanya sendiri. Bisnis mumi pun marak, mempekerjakan banyak tenaga khusus. Hewan harus dibiakkan, dipelihara, dibunuh, dan dimumikan. Mereka harus pula mengimpor damar, mempersiapkan bebat, dan menggali makam.
Walaupun tujuan dari produk ini mulia, tetap terjadi kecurangan dalam pelaksanaannya dan terkadang peziarah mendapat barang yang tidak sesuai. “Pemalsuan, penipuan,” kata Ikram. Pemeriksaan sinar-x yang dilakukan Ikram memperlihatkan berbagai penipuan terhadap konsumen, yaitu hewan yang murah menggantikan hewan langka yang lebih mahal; mumi diisi tulang atau bulu, bukannya binatang utuh; pembalut indah yang hanya membungkus lumpur. Ikram menemukan bahwa semakin indah kemasan luar dari mumi, kemungkinan penipuan makin besar.
Untuk mengetahui cara kerja pembalsam zaman dahulu—topik yang tidak dibahas atau hanya diuraikan secara samar-samar dalam teks kuno—Ikram melakukan percobaan pembuatan mumi. Untuk mendapatkan bahan percobaan, dia mengunjungi labirin suq, pasar Khan el-Khalili yang sudah ada sejak abak ke-14 di Kairo. Di toko kecil yang hanya satu blok dari kios cendera mata, seorang klerek menggunakan neraca kuningan tua untuk menimbang gumpalan kristal abu-abu. Kristal itu adalah natron, garam yang menyerap kelembapan dan lemak, bahan pengering penting dalam pembuatan mumi. Bahan ini masih ditambang tak jauh di barat daya Delta Sungai Nil dan biasanya dijual sebagai soda pembersih. Di toko ramuan tak jauh dari situ, Ikram menemukan minyak yang dapat melenturkan kembali jasad yang kering dan kaku, serta keping damar yang ketika dicairkan akan menyegel bebat mumi. Sayangnya tak ada lagi yang menjual tuak nira yang digunakan pembalsam zaman dahulu sebagai pembasuh rongga tubuh setelah dikeluarkan isinya. Sebagai ganti, Ikram menggunakan gin buatan setempat.
Ikram memulai pembuatan muminya dengan kelinci karena ukurannya mudah ditangani dan bisa dibeli di toko daging. “Alih-alih menjadikannya sup kelinci, kuberi mereka hidup abadi,” ujarnya. Flopsy—dalam upayanya ini, Ikram menamai semua muminya—dia pendam secara utuh di dalam natron. Jasadnya tak bertahan sampai dua hari. Lalu, terbentuklah gas yang makin lama makin banyak untuk kemudian meledak. Adapun muminya yang bernama Thumper (diambil dari nama kelinci dalam film Bambi lansiran Disney) bernasib lebih baik. Paru, hati, lambung, dan usus si Thumper dikeluarkan. Dia kemudian diisi dengan natron dan dipendam dalam natron yang lebih banyak. Thumper bertahan.
Fluffy, mumi kelinci yang kandidat berikutnya, membantu memecahkan teka-teki arkeologi. Natron yang dimasukkan ke dalam tubuhnya menyerap cairan yang sangat banyak membuat natron menjadi lembek, bau, dan menjijikkan. Ikram mengeluarkan natron lembek itu dan lalu mengganti jeli natron tersebut dengan natron baru di dalam kantong linen. Kantong ini mudah diambil begitu mulai lembek, itulah sebabnya ditemukan buntalan seperti ini di banyak peti pembalsaman.
Proses pembalsaman Peter Cottontail sangat berbeda. Alih-alih mengeluarkan isi perut, Peter diberi terpentin dan minyak cedar lewat injeksi enema (melalui dubur) sebelum dimasukkan ke dalam natron. Herodotus, sejarawan Yunani ternama, menulis tentang prosedur ini pada abad kelima SM, tetapi para akademisi tidak sepakat tentang reliabilitasnya. Dalam hal ini, percobaan itu membuktikan bahwa Herodotus benar. Semua isi perut Peter larut kecuali jantungnya—satu-satunya organ yang selalu disisakan oleh orang Mesir purba.
Sama seperti hewan yang dimumikan lebih dari 3.000 tahun silam, mumi Ikram juga menuju ke alam baka yang bahagia. Begitu pekerjaan lab selesai, Ikram dan murid-muridnya mengikuti tata cara dan membungkus setiap jasad dengan bebat yang ditulisi mantra gaib. Sambil mengucapkan doa dan membakar dupa, mereka menguburkan mumi-mumi itu dalam lemari ruang kelas dan aktivitas mereka pun memikat pengunjung—termasuk saya. Sebagai persembahan, saya menggambar seikat wortel gemuk dan simbol untuk mengalikan ikatan wortel itu seribu kali. Ikram meyakinkan saya bahwa di alam baka, gambar itu langsung menjadi nyata dan membuat kelinci-kelincinya menggerak-gerakkan hidung kegirangan.
NATIONAL GEOGRAPHIC
Senin, 02 November 2009
MANTAFFF !! Jaring Laba-Laba Berusia 140 Juta Tahun !!!

sumber :http://tidakmenarik.wordpress.com/2009/11/02/jaring-laba-laba-berusia-140-juta-tahun/
Jaring laba-laba berumur 140 juta tahun ditemukan di dalam sebuah batu amber di Sussex, Inggris, oleh tim peneliti Universitas Oxford, baru-baru ini. Selain jaring laba-laba, para ilmuwan juga menemukan beberapa materi tumbuhan, kotoran serangga, dan mikroba kuno di tempat itu.
“Jaring ini menjadi jaring tertua dalam catatan penemuan fosil selama ini,” ucap Martin Brasier, kepala tim peneliti Universitas Oxford kepada tim Livescience.
Brasier dan sejumlah rekannya menggunakan teknik komputer bernama confocal microscopy untuk merekonstruksi jaring dan memeriksa struktur anyamannya. Dari beberapa petunjuk yang ditemukan, para peneliti menduga, jaring laba-laba mengkilat itu dihasilkan oleh laba-laba yang memiliki hubungan dekat dengan laba-laba modern.
“Jika dilihat dari bentuk jaringnya, saya menduga makanan laba-laba ini adalah serangga terbang, seperti lalat dan nenek moyang lebah, tawon, juga ngengat,” tutur Brasier.
Pada 2006, para ilmuwan melaporkan telah menemukan jaring laba-laba kuno dalam sebuah batu amber yang diperkirakan berumur 136 juta tahun. Penemuan jaring laba-laba terbaru ini akan dipublikasikan dalam jurnal Geological Society edisi mendatang.(lip6/ais)RILEKS.COM
Senin, 26 Oktober 2009
Keajaiban Ke-8 Bukan Moyang Manusia !!!

Darwinius masillae Ida
Fosil berusia 47 juta tahun itu diberi nama ilmiah dan dijuluki sebagai Darwinius masillae Ida. Dia dianggap sebagai “keajaiban dunia kedelapan “, “MonaLisa” dan sebuah evolusi dari “Rosetta Stone”, menurut para peneliti yang mengumumkannya.
Mereka mengatakan, fosil tersebut adalah missing link atau rantai yang hilang antara manusia dan dunia hewan.
Erik Seiffert, peneliti utama studi baru mengatakan,”Pandangan yang menganggap bahwa Ida memiliki hubungan khusus dengan primata tingkat tinggi seperti monyet, kera dan manusia, merupakan pandangan minoritas dari awal. Jadi hal itu hanya mengejutkan banyak orang yang mempelajari paleontology primata.”
Analisis baru Seiffert dimulai dengan usaha untuk mengidentifikasi fosil primata lainnya yaitu Afradapis longicristatus, yang diduga memiliki hubungan erat dengan Darwinius.
Kemudian para peneliti secara membandingkan 360 ciri-ciri anatomi dari 117 spesies primata yang hidup ataupun telah punah. Mereka juga menyusun pohon keluarga. Analisis menunjukkan bahwa kedua primata terletak di awal ranting dari cabang yang menghasilkan lemur, dan jauh dari garis keturunan monyet dan kera besar. Lebih lanjut, para peneliti mengatakan bahwa kedua jenis tidak memiliki keturunan modern.
Studi baru yang diterbitkan di Nature, menentang gagasan yang menyatakan bahwa Darwinius adalah bagian penting dari garis keturunan manusia. Para peneliti sebelumnya telah memilih fitur Ida dalam wajah, gigi, dan kaki yang serupa dengan kera yang lebih tinggi, namun tim peneliti baru, berpendapat bahwa fitur tersebut dapat menjadi hasil dari evolusi konvergen.
Para peneliti yang menemukan Darwinius berpegang teguh pada temuan mereka, dan mempertahankan bahwa Ida adalah penemuan yang spektakuler. Mereka juga mengatakan bahwa kerangka Darwinius jauh lebih lengkap daripada Afradapis dan menunjukkan karakteristik primata yang lebih tinggi, misalnya tulang di kaki
Tapi Seiffert mengatakan bahwa Darwinius tidak memainkan peran penting dalam asal-usul manusia, dan lebih erat kaitannya dengan lemur dan lorises. Seiffert mengatakan, “nenek moyang terakhir Darwinius adalah nenek moyang yang sama yang memunculkan semua primata”.
Sumber : inilah.com
Rabu, 14 Oktober 2009
Derinkuyu dan kaymakh: Keajaiban bawah tanah

Seperti sebuah masyarakat penghuni pangkalan laut yang sebenarnya, penduduk Anatolia Sentral mengusung konsep kehidupan bawah tanah yang ekstrim.
Ditemukan lebih dari 100 kaki di bawah permukaan, kota kuno Derinkuyu mungkin adalah kota bawah tanah paling mengesankan yang terdapat di wilayah ini. Para arkeolog menetapkan bahwa terowongan dan ruang bawah tanah kompleks yang kedudukannya simpang siur ini pernah digunakan sebagai tempat perlindungan yang aman bagi sekitar 100.000 orang.
Derinkuyu secara tak sengaja ditemukan pada 1963 ketika seorang penduduk Capadocia sedang mengerjakan perluasan gua tempat tinggalnya, memecahkan tembus sebuah dinding untuk menemukan sebuah ruangan misterius yang terukir pada batu di samping tempat tinggalnya.
Terinspirasikan oleh temuan itu, sang pemilik gua terus menggali, menemukan suatu ruangan terpahat sebelumnya satu demi satu. Temuan itu membuka salah satu dari petualangan arkeologi yang lebih menarik pada abad lalu.
Para arkeolog telah melakukan penyelidikan sepanjang 130 kaki di bawah permukaan, menemukan sebuah hunian mengesankan yang berhiaskan pahatan batu. Tetapi sebagian arkeolog memperkirakan bahwa masih ada lebih banyak lagi penyelidikan karena kedalaman kota tersebut diperkirakan mencapai sekurang-kurangnya 78 meter di dalam tanah.
Meskipun daya tarik turis yang terkenal ini menawarkan delapan tingkat petualangan bawah tanah bagi mereka yang ingin menyelidiki Derinkuyu, namun masih ada 10 atau 12 tingkat lainnya lagi yang sekarang ini hanya para arkeolog saja yang diizinkan untuk menyelidiki. Total jumlah tingkat dari kota tersebut masih belum diketahui.
Tempat Perlindungan yang Aman
Bukan digunakan sebagai tempat tinggal permanen, sebaliknya, hunian bawah tanah ini berfungsi sebagai tempat persembunyian sementara selama kota yang berada di permukaan diserang. Dirancang sedemikian rupa sehingga puluhan ribu orang dapat hidup di bawah tanah, aman dari serbuan tentara selama berbulan-bulan pada suatu masa.
Untuk bertanggung jawab terhadap begitu banyaknya orang yang tinggal di bawah tanah dalam jangka waktu lama, para perencana kota Derinkuyu memasukkan 50 lebih tabung ventilasi ke dalam rancangannya. Selain banyak sumur, kota itu juga mempunyai sungai bawah tanah alami untuk membantu memenuhi kebutuhan air dari warga.
Memahat batu bawah tanah ini dengan peralatan primitif yang ada dalam satu ruangan saja mungkin adalah sebuah tugas yang sulit dan membutuhkan banyak tenaga, tetapi kota yang terpencar ini mempunyai gang-gang yang simpang siur yang menghubungkan ruangan-ruangan, daerah-daerah kota dan berbagai tingkat-tingkat. Bahkan ada suatu gang yang panjangnya 8 mil, menghubungkan Derinkuyu dengan banyak kota bawah tanah kuno lainnya—Kaymakh.
Derinkuyu mempunyai ruangan-ruangan bagi semua kegiatan sehari-hari sama seperti yang dinikmati orang-orang kuno ini ketika mereka adalah penghuni kota permukaan. Ada meja, dapur, ruang makan, kedai minum, bak tangki air, toko, gudang anggur dan gudang minyak bawah tanah serta sebuah sekolah. Bahkan ada tempat ibadat, termasuk sebuah kapel dengan luas 19,5 x 9 meter dengan ketinggian langit-langit hampir 3 meter.
Ada akomodasi untuk banyak keluarga dan juga ruangan untuk binatang peliharaan, kebun, dan makanan yang cukup selama kurang lebih setengah tahun. Tungku dapur adalah sebuah ciri yang ada pada kedua kota dan pada beberapa tempat di Kaymakh, sebagian gang dihiasi dengan lukisan Byzantine.
Sistem Keamanan
Karena kota bawah tanah ini digunakan sebagai tempat perlindungan selama beberapa bulan dari penyerbu yang datang dari luar, menahan penyelundup agar tidak ke luar merupakan hal yang utama.
Derinkuyu dilengkapi dengan pintu yang sangat besar yang dapat dipindah-pindahkan dalam bentuk piringan batu yang sangat berat, tebalnya hampir 60 cm dan diameternya 1,8 meter lebih. Pintu-pintu ini dapat digelinding membuka untuk membiarkan orang masuk dan digelinding menutup untuk menahan musuh ke luar.
Karena mereka memahatnya lebih dari berabad-abad, kota bawah tanah yang mengagumkan ini sebenarnya adalah produk dari beberapa kebudayaan.
Sebagai contoh Kaymakh, dibangun antara abad ke-5 dan ke-10. Walaupun struktur lengkap Kaymakh lebih tua daripada Derinkuyu—yang mana inisial konstruksinya memperlihatkan abad ke-7, yang dibuat oleh Phrygians (penduduk Phrygia, sebuah daerah kuno di barat pusat Asia Kecil)—banyak para arkeolog mengira bahwa tingkat pertama dari Kaymakh mungkin telah dibangun oleh Hittites (anggota dari masyarakat kuno yang mendirikan kekaisaran di Asia Kecil dan Syria) sekitar 1.400 Sebelum Masehi.
Fakta yang didapat pada tempat itu menyatakan bahwa penghuni-penghuni ini dahulu mungkin pernah melayani sisa penduduk Hittites saat kekaisaran mereka dihancurkan oleh penyerbu dari Thrace (penduduk Thrace, negeri kuno yang terletak di barat Laut Hitam dan di utara Aegean).
Sumber: kaskus.us