Rabu, 26 Agustus 2009

Mural Prasejarah yang Unik dan Indah






http://erabaru.net/images/stories/7-mural1-big25ags09.jpg



Jari manis panjang dan halus, jari kelingking pendek dan kecil, dari ciri-ciri tersebut, para arkeolog menduga cap tangan pada lukisan dinding prasejarah ini milik seorang seniman perempuan. (DAILYMAIL.UK)



Arkeolog dunia yang meneliti lukisan dinding dalam gua selama ini selalu berpendapat, sebagian besar lukisan dinding tersebut lahir dari tangan seniman pria. Akan tetapi, baru-baru ini para arkeolog dari Universitas Pennsylvania AS dalam artikelnya di majalah National Geographic menyatakan, sesungguhnya banyak dari karya-karya tersebut ternyata hasil karya seniman perempuan.

Menurut pemberitaan “Daily News” Inggris, Profesor Dean R. Snow dari Universitas Pennsylvania setelah meneliti banyak lukisan dinding prasejarah yang ditemukan di Prancis dan Spanyol, mendapati bahwa di samping lukisan-lukisan tersebut ditinggalkan cap telapak tangan yang seharusnya merupakan cap tangan seorang perempuan, dan bukan cap tangan pria seperti yang selama ini diketahui oleh para arkeolog.

Pada 1922, beberapa pemuda berhasil menemukan sebuah lukisan dinding yang indah dan sangat unik di dalam sebuah gua yang disebut Gua Perche Mel di selatan Prancis, yang sempat menggemparkan segenap dunia arkeologi. Di antaranya terdapat lukisan yang bertema kuda “bertutul” merupakan lukisan yang paling menonjol, lukisan tersebut diperkirakan rampung dilukis di dinding itu sekitar 25.000 tahun yang lalu.

Selain didapati mural/lukisan dinding dalam jumlah banyak, para arkeolog juga menemukan banyak cap telapak tangan di dalam dinding gua tersebut, yang pada saat itu diperkirakan sebagai cap telapak tangan pria, dan anggapan tersebut masih dapat diterima hingga saat ini.

Untuk meneliti siapa sebenarnya yang meninggalkan cap telapak tangan tersebut, Profesor Snow memasukkan profil cap telapak tangan di dinding gua tersebut ke dalam komputer, dan setelah membandingkan dengan bentuk tangan orang Eropa masa kini, ternyata perempuan prasejarah memang juga terlibat dalam proses pembuatan lukisan dinding raksasa tersebut.

Tidak hanya itu, Profesor Snow juga meneliti kembali lukisan diding di Gua Kargath, Prancis, dan juga lukisan dinding di Gua El Castillo, Spanyol, yang telah berusia 28.000 tahun, dan hasil yang diperoleh adalah sama.

Profesor Snow mengatakan kepada wartawan, “Kami mendapati pada sebuah cap telapak tangan memiliki jari manis yang panjang dan halus, ini mutlak bukan milik seorang pria. Satunya lagi jari telunjuknya sangat panjang, dengan jari kelingking sangat pendek, ini juga sangat sesuai dengan struktur jari tangan seorang perempuan… Kami memiliki data-data mengenai bagian tangan perempuan Eropa moderen, setelah kami bandingkan dengan seksama, kami meyakini bahwa perempuan prasejarah juga telah membuat lukisan dinding seperti ini dalam jumlah banyak.”

Hasil riset Snow membuktikan peran serta seorang perempuan dalam kebudayaan prasejarah mungkin jauh melampaui yang diperkirakan sebelumnya. Snow berkata, “Meski kami tidak mengetahui bagaimana sebenarnya status seorang seniman perempuan di zaman batu sekitar 40.000 sampai 20.000 tahun silam, namun penemuan kita ini cukup untuk menjelaskan peranan perempuan di bidang seni dan budaya pada zaman itu memiliki posisi atau kedudukan yang tidak bisa dipandang enteng.”

Saat ini penelitian Profesor Snow ini hanya terbatas untuk wilayah Eropa saja, namun ia menyatakan dirinya masih akan meneruskan penelitian lukisan dinding ini di berbagai tempat di seluruh dunia, untuk pada akhir-nya membuktikan kedudukan-seniman perempuan di bidang ini di zaman prasejarah. (Dajiyuan/lie)Arkeolog dunia yang meneliti lukisan dinding dalam gua selama ini selalu berpendapat, sebagian besar lukisan dinding tersebut lahir dari tangan seniman pria. Akan tetapi, baru-baru ini para arkeolog dari Universitas Pennsylvania AS dalam artikelnya di majalah National Geographic menyatakan, sesungguhnya banyak dari karya-karya tersebut ternyata hasil karya seniman perempuan.

Menurut pemberitaan “Daily News” Inggris, Profesor Dean R. Snow dari Universitas Pennsylvania setelah meneliti banyak lukisan dinding prasejarah yang ditemukan di Prancis dan Spanyol, mendapati bahwa di samping lukisan-lukisan tersebut ditinggalkan cap telapak tangan yang seharusnya merupakan cap tangan seorang perempuan, dan bukan cap tangan pria seperti yang selama ini diketahui oleh para arkeolog.

Pada 1922, beberapa pemuda berhasil menemukan sebuah lukisan dinding yang indah dan sangat unik di dalam sebuah gua yang disebut Gua Perche Mel di selatan Prancis, yang sempat menggemparkan segenap dunia arkeologi. Di antaranya terdapat lukisan yang bertema kuda “bertutul” merupakan lukisan yang paling menonjol, lukisan tersebut diperkirakan rampung dilukis di dinding itu sekitar 25.000 tahun yang lalu.

Selain didapati mural/lukisan dinding dalam jumlah banyak, para arkeolog juga menemukan banyak cap telapak tangan di dalam dinding gua tersebut, yang pada saat itu diperkirakan sebagai cap telapak tangan pria, dan anggapan tersebut masih dapat diterima hingga saat ini.

Untuk meneliti siapa sebenarnya yang meninggalkan cap telapak tangan tersebut, Profesor Snow memasukkan profil cap telapak tangan di dinding gua tersebut ke dalam komputer, dan setelah membandingkan dengan bentuk tangan orang Eropa masa kini, ternyata perempuan prasejarah memang juga terlibat dalam proses pembuatan lukisan dinding raksasa tersebut.

Tidak hanya itu, Profesor Snow juga meneliti kembali lukisan diding di Gua Kargath, Prancis, dan juga lukisan dinding di Gua El Castillo, Spanyol, yang telah berusia 28.000 tahun, dan hasil yang diperoleh adalah sama.

Profesor Snow mengatakan kepada wartawan, “Kami mendapati pada sebuah cap telapak tangan memiliki jari manis yang panjang dan halus, ini mutlak bukan milik seorang pria. Satunya lagi jari telunjuknya sangat panjang, dengan jari kelingking sangat pendek, ini juga sangat sesuai dengan struktur jari tangan seorang perempuan… Kami memiliki data-data mengenai bagian tangan perempuan Eropa moderen, setelah kami bandingkan dengan seksama, kami meyakini bahwa perempuan prasejarah juga telah membuat lukisan dinding seperti ini dalam jumlah banyak.”

Hasil riset Snow membuktikan peran serta seorang perempuan dalam kebudayaan prasejarah mungkin jauh melampaui yang diperkirakan sebelumnya. Snow berkata, “Meski kami tidak mengetahui bagaimana sebenarnya status seorang seniman perempuan di zaman batu sekitar 40.000 sampai 20.000 tahun silam, namun penemuan kita ini cukup untuk menjelaskan peranan perempuan di bidang seni dan budaya pada zaman itu memiliki posisi atau kedudukan yang tidak bisa dipandang enteng.”

Saat ini penelitian Profesor Snow ini hanya terbatas untuk wilayah Eropa saja, namun ia menyatakan dirinya masih akan meneruskan penelitian lukisan dinding ini di berbagai tempat di seluruh dunia, untuk pada akhir-nya membuktikan kedudukan-seniman perempuan di bidang ini di zaman prasejarah. (Dajiyuan/lie)erabaru.or.id




Senin, 24 Agustus 2009

Mengintip Sphinx Agung Giza






http://scrapetv.com/News/News%20Pages/Science/Images/sphinx.jpg


Sphinx Agung Giza adalah sebuah patung sphinx besar berbentuk separuh manusia, dan separuh singa yang terdapat di Mesir, di Dataran Giza, tepi barat Sungai Nil, dekat KairoMesir Kuno pada milenium ketiga SM. sekarang. Ini adalah satu dari beberapa patung terbesar di dunia yang terbuat dari satu batu utuh, dan dipercaya telah dibangun oleh


Nama yang digunakan bagi masyarakat Mesir Kuno untuk menyebut patung ini sama sekali tidak diketahui. Nama "sphinx" yang biasa digunakan diambil dari nama makhluk mitologi Yunani dengan tubuh seekor singa, kepala seorang wanita, dan sayap seekor elang, walaupun patung sphinx Mesir memiliki kepala laki-laki. Kata "sphinx" berasal dari bahasa Yunani (Σφιγξ — Sphinx, dari kata kerja σφιγγω — sphingo) yang berarti mencekik, karena sphinx dari mitologi Yunani mencekik orang yang tidak dapat menjawab pertanyaan teka-tekinya. Bagi beberapa orang, dipercayai bahwa nama ini merupakan perubahan kata dari bahasa Mesir kuno Shesep-ankh, sebuah nama yang diberikan kepada patung bangsawan pada Dinasti Keempat. Pada tulisan-tulisan abad pertengahan, nama balhib dan bilhaw yang menunjuk pada Sphinx dipergunakan, termasuk oleh sejarawan Mesir Maqrizi, yang menyarankan penyusunan bahasa Koptik, tapi istilah Arab-Mesir Abul-Hôl, yang diartikan sebagai "Bapak Teror," lebih banyak digunakan.


http://www.sacredsites.com/africa/egypt/images/the-sphinx-500.jpg

http://www.fyvie.net/photos/Travel/Egypt%201996/slides/sphinx.jpg

http://www.pyramidofman.com/blog/wp-content/gallery/giza/SphinxFront.jpg


http://guardians.net/hawass/images/sphinx4b.jpg

http://guardians.net/hawass/images/sphinx3.jpg

http://guardians.net/hawass/images/sphinx2.jpg

http://www.digitaldutch.com/arles/tutorials/thumbnail_tags/galleries/thumbnail_tags_with_size/images/Sphinx.jpg

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c5/Egypt.Giza.Sphinx.01.jpg

http://chalk.richmond.edu/education/projects/webunits/egypt/sphinx2.jpg

Kamis, 13 Agustus 2009

Tulang Belulang Ayam Purba Menunjukkan Kedatangan Orang Polinesia ke Chili






tulang ayam

Dapatkah tulang ayam purba membuktikan orang-orang Polinesia mengunjungi Amerika Selatan sebelum kedatangan orang Eropa? (Archaeology)


Tulang seekor ayam di Chili memberikan bukti yang kuat hingga memunculkan perdebatan apakah orang-orang Polinesia melakukan perjalanan dengan rakit mengunjungi Amerika Selatan beberapa ribu tahun yang lalu – atau sebaliknya, demikian para peneliti mengatakan.


DNA tulang itu membawa suatu mutasi yang aneh yang menghubungkannya dengan ayam-ayam di Tonga dan Samoa., penentuan umur dengan cara radiokarbon menunjukkan tulang-tulang itu berumur 600 tahun – yang berarti lebih tua atau mendahului kedatangan orang Spanyol di Amerika Selatan.


Alice Storey, seorang mahasiswa doktoral di Universitas Auckland, New Zealand, yang sedang melakukan penelitian mengatakan bahwa ayam-ayam ini ada hubungannya dengan induk ayam (babon) dari Polinesia.


Penemuan timnya yang dipublikasikan dalam The Proceeding of the National Academy of Sciences, mempunyai kesan petualangan Thor Heyerdahl hanya sebagian yang benar saat ia berlayar dengan rakitnya Kon-Tiki dari Amerika Selatan ke Polinesia untuk membuktikan hubungan prasejarah menyeberangi Pasifik yang menjadi karya penerbitan terlaris.


Lewat telewicara telepon Storey mengatakan: “Apa yang dikatakannya adalah berbalikan.”


Ia menambahkan: “Heyerdahl berpikir orang ke luar dari Amerika Selatan menuju Polinesia. Kita tahu kenyataannya bahwa orang Polinesia yang pergi ke Amerika Selatan.”


Pada dasarnya ayam berasal dari Asia Tenggara, dan banyak peneliti berasumsi petualang-penakluk dari Spanyol membawanya masuk ke Asia Tenggara pada abad 16.


Para ahli yang lain tidak yakin. Ketika sebuah tim peneliti secara tidak sengaja menemukan tulang belulang ayam purba di suatu lokasi arkeologi di Chili, mereka mencoba menentukan umurnya dengan radiokarbon dan melihat DNA nya.


Para peneliti sungguh beruntung karena DNA ayam-ayam tersebut membawa mutasi yang aneh yang identik dengan penemuan di dua tempat arkeologi di Pasifik: Mele Havea di Tonga, berumur 2.000 tahun yang lalu, dan yang satu lagi di Samoa Amerika, berumur kira-kira sama dengan yang di Chili.


“Tentang tempat asal dan waktu pengenalan unggas domestik atau ayam, orang Amerika telah berdebat lebih dari 30 tahun”, tulis tim dari Storey.


“Di sini kami menemukan bukti-bukti yang pasti, pengenalan ayam zaman pra Eropa ke Amerika dan menunjukkan melalui bukti-bukti DNA purba sepertinya sumber pengenalan itu adalah Polinesia,” tambahnya. (Epochtimes)erabaru.or.id







Rabu, 12 Agustus 2009

Peta Eropa Tertua Berusia 14.000 Tahun Ditemukan – Pic






http://tidakmenarik.files.wordpress.com/2009/08/mg20327204-400-1_800.jpg?w=468&h=290


Sebuah peta yang dianggap sebagai salah satu peta Eropa tertua di dunia berhasil ditemukan. Namun, media peta tersebut bukanlah di atas kertas melainkan sebongkah batu yang berusia 14.000 tahun.


Melansir pemberitaan Daily Mail, Sabtu (8/8) disebutkan, para arkeolog menilai masyarakat purba ternyata memerlukan panduan perjalanan sama seperti masyarakat modern.


Para arkeolog ini menggali bebatuan di sebuah gua di Spanyol di kawasan Navarre, Barat Eropa. Dijumpai juga sejumlah ukiran berusia 14.000 tahun yang diduga hasil dari masyarakat pemburu-pengumpul Magdalenia.


Temuan para arkeolog ini dipaparkan di The Journal of Human Evolution yang menurut ilmuwan Spanyol merupakan sebuah peta. Tim yang dipimpin oleh Pilar Utrilla dari University of Zaragoza di Spanyol mengambil bebatuan tersebut di tahun 1994, namun dianalisanya 15 tahun kemudian.


Di permukaan batu tersebut terukir gambaran sungai, kolam dan semak-semak. Selain itu, terdapat juga sketsa hewan purba. Mereka berspekulasi gambar lingkaran mewakili daratan datar yang digenangi air.


“Semua perincian peta di batu itu menjelaskan perta sekitar lokasi gua. Bisa jadi ini merupakan rencana untuk berburu mereka atau kisah naratif dari apa yang telah terjadi pada masyarakat tersebut,” tulis tim ini dalam jurnal mereka.


Para arkeolog ini persisnya menemukan bebatuan tersebut di gua Abauntz Lamizulo yang diyakini tempat tinggalnya hewan mitos nymph berkaki burung yang masyarakat setempat menyebutnya ‘lamias’.


Dari gambaran peta tersebut, ilmuwan meyakini pola berpikir masyarakat purba yang mulai cerdas. Di batu itu terdapat juga gambaran gunung yang memakan waktu beberapa tahun bagi ilmuwan untuk menelitinya.


Temuan dan studi ini menarik perhatian arkeolog prasejarah Lawrence Straus dari the University of New Mexico di Albuquerque. “Ini adalah temuan yang spekatakuler. Ia memberikan kita sekilas cara masyarakat purba bernavigasi dan menjelaskan teritorialnya,” kata Lawrence.


Untuk rekor peta tertua sedunia adalah salah satu yang ditemukan di Eropa di Pavlov, Republic Czechnya yang berusia 25.000 tahun yang tertuang di atas batu menggambarkan gunung, sungai dan lembah seputar kawasan tersebut.harian-global.com







Kamis, 06 Agustus 2009

Hah..!! Patung Firaun mirip dengan Michael Jackson…




sumber :http://www.semelekete.com/hah-patung-firaun-mirip-dengan-michael-jackson.html


Firaun


Dunia mengenang Michael Jackson sebagai ‘King of Pop’. Namun, apakah pria yang meninggal Juni lalu tersebut bisa juga dijuluki ‘Pharaoh of Pop’?


Sebuah benda yang mirip dengan wajah Michael telah ditemukan, terukir pada patung batu berusia 3.000 tahun dari Mesir. Patung tersebut digambarkan berjenis kelamin perempuan.


Wajah patung firaun itu sangat mirip dengan Michael, termasuk mata berbentuk kacang almond dan hidung berbentuk aneh. Patung batu tersebut disimpan di Field Museum di Chicago, Amerika Serikat. Patung itu diukir pada zaman Kerajaan Baru atau sekitar zaman Ramses dan Tutankhamun, antara 1550 SM dan 1050 SM. Lucunya, video klip lagu ‘Remember The Time’ pada 1993 yang dinyanyikan Michael mengambil latar zaman kekuasaan Ramses di Mesir.


Kepada harian Sun Times di Chicago, seperti dikutip dari laman harian The London Paper, Rabu 5 Agustus 2009, juru bicara museum mengaku tidak tahu apakah Michael Jackson pernah menyambangi museum tersebut. Namun dia mengaku, kemiripan antara patung perempuan itu dengan Michael sangat luar biasa.


Patung itu dipajang di museum tersebut sejak tahun 1988, sesaat sebelum wajah Michael mengalami perubahan dramatis melalui bedah plastik.


*VIVAnews






Rabu, 05 Agustus 2009

Makhluk Hidup 100 Juta Tahun di Dalam Ambar






Fosil penyu yang ditemukan terakhir menunjukkan, penyu zaman sekarang tidak ada perubahan apapun dengan penyu 100 juta tahun yang lampau. (INTERNET)

Fosil penyu yang ditemukan terakhir menunjukkan, penyu zaman sekarang tidak ada perubahan apapun dengan penyu 100 juta tahun yang lampau. (INTERNET)


Bukan hanya ilmuwan saja, orang awam seperti kita pun, juga berharap mengetahui dengan pasti dan bukannya perkiraan saja bahwa 5.000, 500 ribu, 100 juta, 500 juta, bahkan 2 miliar tahun yang lalu, apa yang telah terjadi dengan bumi, makhluk hidup kala itu adakah perbedaannya dengan sekarang?

Maret 2005, ilmuwan Australia mengumumkan telah menemukan sejumlah fosil penyu kuno yang pernah hidup pada 110 juta tahun yang lampau. Fosil-fosil tersebut ditemukan di timur laut Negara Bagian Queensland, Australia.


Cole, ahli biologi makhluk hidup zaman kuno mengatakan, “Fosil-fosil tersebut kelihatannya tidak ada perbedaan yang terlalu besar dengan penyu zaman sekarang. Penyu sepertinya sejak awal adalah hasil karya sang Pencipta, selain itu mereka juga selalu mempertahankan kondisi seperti itu.”


Di dalam kurun waktu yang begitu panjang, pada dasarnya nyaris tidak terjadi perubahan apapun pada penyu.


Fosil kupu-kupu berumur 100 juta tahun, ditemukan di Provinsi Gansu, Tiongkok. (INTERNET)

Fosil kupu-kupu berumur 100 juta tahun, ditemukan di Provinsi Gansu, Tiongkok. (INTERNET)


Belakangan ini, museum sejarah nasional Paris, Perancis beserta ilmuwan dari pusat penelitian ilmiah negara dari Strasbourg mengumumkan sebuah penelitian bersama terbaru. Disebutkan untuk kali pertama sebuah mikro-organisme kelautan yang utuh berupa semacam hewan liar minimal berusia 100 juta tahun yang dibalut oleh ambar.


Penelitian menunjukkan, penemuan tanpa disengaja di daerah istimewa Perancis Selatan, bisa dilacak hingga minimal 20 juta tahun yang lampau. Pada masa rumput laut bersel satu yang disebut Bacillariophyta muncul di bumi.


Boleh dibilang, di dalam hasil penelitian ilmiah itu sudah dipastikan pada 20 juta tahun yang silam eksis makhluk hidup mikroba laut semacam ini, yang sekarang ditemukan bahkan 100 juta tahun yang lalu sudah eksis, padahal juga masih jenis makhluk semacam itu.


80 juta tahun lalu, rumput laut bersel satu kenapa tidak berkembang menjadi amphibi? Bahkan tidak sampai berkembang ke makhluk bersel kompleks? Ini betul-betul telah mengingkari segenap penelitian ilmiah di dalam text book.


Pengarang yang mewartakan penelitian ini yakni Saint Martin, merangkap ilmuwan museum sejarah nasional Paris menunjukkan, penemuan ini bersamaan juga menantang teori parsial dari evolusi organisme tersebut dan membuktikan penelitian ilmu molekular genetika.


Anggota penelitian di dalam pernyataan itu menyatakan, “Penemuan ini akan memperdalam pemahaman kita tentang jenis biota laut yang telah lenyap tersebut, berbarengan dengan itu menyediakan materi yang sangat berharga tentang situasi kelautan pada Periode Kapur atau Cretaceous di wilayah barat Perancis.”


Periode Kapur adalah antara masa 145 juta hingga 65 juta tahun yang silam. Dewasa ini, di dalam penemuan baru tersebut masih berupa satu misteri yang belum terjawab, “Biota laut kenapa bisa terbungkus di dalam ambar yang terbentuk oleh tetesan getah pohon?”

Laba-laba terkurung di dalam ambar (resin pohon yang menjadi fosil dan dihargai karena warna serta kecantikannya) 136 juta tahun yang silam. (INTERNET)

Laba-laba terkurung di dalam ambar (resin pohon yang menjadi fosil dan dihargai karena warna serta kecantikannya) 136 juta tahun yang silam. (INTERNET)


Secara jujur dikatakan, ilmuwan zaman sekarang juga terheran-heran, mereka hanya memperkirakan: penggambaran yang paling mungkin ialah, hutan yang menghasilkan ambar sangat dekat dengan tepi pantai, organisme model kecil yang terkandung makhluk mengapung primitif, barangkali telah diantar ke tengah daratan oleh air bah yang terbentuk oleh angin kencang ataupun angin puyuh.


Sebetulnya benarkah demikian, tidak begitu penting, yang terpenting ialah berita seperti itu telah menguak sebuah informasi yang sangat peka. Yakni sebuah jenis makhluk hidup telah melalui beberapa puluh juta tahun, bahkan ratusan juta tahun pun tidak mengalami perubahan, adalah karena ia dan jenis makhluk lainnya pada dasarnya tidak memiliki hubungan intern dan eksternal. Mereka termasuk kerajaan yang berbeda, mereka memiliki raja dan majikannya sendiri.


Jika benar begitu halnya, tidak saja telah menjungkir-balikkan teori evolusi, selain itu masih terdapat sebuah pertanyaan yang membuat orang tak hentinya mengejar dan tak hentinya berdebar:


Siapa yang menciptakan kehidupan ini? Mengapa harus menciptakan kehidupan tersebut? Manusia berasal dari mana? Mengapa manusia mau datang ke bumi? Selama berabad-abad lamanya sedang menunggu apa?… Apakah sedang menanti kedatangan tuan mereka? (Epochtimes/whs)ERABARU.OR.ID




Minggu, 02 Agustus 2009

Kerangka Manusia Berusia 8.000 Tahun Ditemukan di Turki





32af767d78e62b248c4a5d4bb951caca


Ankara, Senin


Kerangka yang berusia 8.000 tahun ditemukan selama penggalian di salah satu daerah permukiman tertua di Turki selatan. Demikian laporan kantor berita setengah resmi Anatolia, Minggu (2/8) waktu setempat.


Kerangka tersebut ditemukan di dalam kuburan zaman Neolitik yang dibongkar di Yumuktepe Hoyuk di provinsi Mersin di bagian selatan negeri itu oleh beberapa ahli arkeologi dari Lecce University, Italia, dan Mimar Sinan Fine Arts University, Turki. Temuan lain selain kerangka tersebut adalah tiga mangkuk, biji gandum, dan bibit zaitun.


“Vas, mangkuk, dan produk makanan seringkali ditaruh di dalam kuburan pada masa akhir Neolitik. Ini memperlihatkan bahwa orang yang hidup pada era itu percaya pada kehidupan setelah kematian,” kata Profesor Isabella Caneva dari Lecce University, Italia.


Penggalian secara sistematis di Yumuktepe Hoyuk pertama kali dilakukan pada 1936 di bawah pengawasan ahli arkeologi Inggris, John Garstang.


Sejak 1993, penggalian telah dilakukan oleh satu tim yang dipimpin oleh Caneva. (Ant/apr)